Makna dan Fungsi Go'et dalam Upacara Congko Lokap Mbaru Tembong: Kajian Linguistik Kebudayaan

Congko Lokap Mbaru Tembong (CLMT) dalam kebudayaan Manggarai jika diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia, maka kurang-lebih maknanya menjadi seperti berikut: 1) congko ‘angkat’, lokap ‘bilahan/serpihan kayu atau sisa-sia kayu’, mbaru ‘rumah’, dan tembong ‘gendang’. Dengan perkataan lain, CLMT merupakan aktivitas membersihkan rumah gendang atau rumah adat dari sisa-sisa atau serpihan kayu yang digunakan sebagai bahan bangunan. Aktivitas ini dilakukan bukan dalam pengertian harfiah CLMT, melainkan dalam bentuk upacara adat dengan mengurbankan beberapa jenis hewan peliharaan seperti kerbau, kuda, ayam, dan babi – dengan ktiteria yang tidak asal-asalan, seperti warna, jenis kelamin, usia  – yang terlebih dahulu didoakan secara tradisonal. Tujuan dari upacara ini adalah melayakkan, meresmikan, dan memberikan ucapan syukur atas berdirinya rumah adat sekaligus mengundang leluhur yang dipercaya sebagai representasi dari Tuhan untuk tinggal bersama-sama di rumah adat.


Sejarah dan Perkembangan SMP YPK Syaloom Sorong

Tidak terdokumentasinya catatan sejarah di sekolah ini dimungkinkan terjadi akibat tiap pergantian kepala sekolah tidak terdata baik. Padahal ini penting bagi catatan sejarah sebuah sekolah. Uniknya buku ini akan menjadi role model bagi semua sekolah YPK di tanah Papua, karena ini buku satu-satunya yang terbit khusus tentang SMP YPK. Secara khusus di Sorong agar mereka dapat membaca catatan sejarah perjalanan SMP YPK Syaloom dari awal berdiri hingga sekarang, tentang pelayanan pendidikan Yayasan Pendidikan Kristen berkarya di tanah Papua.

Pengetahuan Kesaguan Guyub Tutur Biak Numfor - Papua: Studi Awal Linguistik Kebudayaan


Artikel ini bertujuan mengungkapkan sistem kognisi bahasa dalam Guyub Tutur Biak Numfor – Papua tentang bentuk pengetahuan kesaguannya yang secara tradisional telah diwarisi sejak lama. Guyub Tutur Biak Numfor selanjutnya disingkat GTBN. Pengetahuan kesaguan merupakan sumber daya budaya dan kekayaan mental yang dimiliki GTBN. Salah satu bentuk pengetahuan kesaguan yang akan diuraikan dalam sajian ini adalah sagu sebagai sistem makanan, yakni (i) keberadaan insani dengan segala atributnya dapat teridentifikasi melalui dan dengan sarana memasak makanan, (ii) memasak dan menyantap makanan menandai transisi dari alam (natural) ke budaya (culture). Pengetahuan ini merupakan suatu sarana yang bersifat universal dalam mentransformasikan pengetahuan alam ke dalam pengetahuan budaya. Artikel ini akan diungkap melalui paradigma linguistik kebudayaan dengan model analisis struktural levi-strauss. Artikel ini akan memfokuskan pada upaya pengungkapan pengetahuan kesaguan dengan memproyeksikan masalah yang mencakup: (i) sagu sebagai sistem langue, dan (ii) sagu sebagai sistem parole.


Paralelisme dalam Dou Sandik Guyub Tutur Biak Numfor - Papua

Guyub Tutur Biak Numfor merupakan satu komunitas masyarakat yang menggunakan varian bahasa yang sama sebagai media sosial-budaya serta fitur pembeda dalam menghadapi realitas kehidupannya setiap hari dan juga sebagai pengemban seperangkat norma dan kaidah yang sama dalam wujud bahasa.


Setiap bentuk paralelisme adalah pembagian yang adil antara unsur-unsur yang tak berubah dan unsur yang berubah. Makin ketatnya distribusi dari unsur yang tak berubah, makin besar perbedaan dan efektivitas variasi-variasi itu. Paralelisme dalam teks Dou Sandik GTBN akan diuraikan berdasarkan prosedur yang diajukan oleh Roman Jakobson, yakni unsur tetap dan tidak tetap yang bertujuan merinci pengulangan dan paralel-paralel yang ada.