Integrasi Ilmu Linguistik dalam Wacana Politik Undang-Undang Otonomi Khusus Papua: Perspektif Studi Morfologi

Penelitian ini merupakan bagian dari upaya memahami nilai filosofi dasar yang tersingkap dibalik undang-undang yang sesungguhnya sangat berarti dalam menemukan kata dan konsep untuk menguraikan makna sebuah teks undangundang. Pemberian ruang otonomi khusus bagi Papua dipandang sebagai tanda baru yang menjadi mercusuar dalam kalangan nasionalis dari ancaman kelompok nasionalis Papua (separatis dan federalis) yang terus-menerus menciptakan tandatanda baru dalam ruang semiotika sosial di Papua. Bahasa sebagai rumah kehidupan, mampu bergema dan disimbolkan sebagai bentuk kebangkitan yang siap mengancam sistem negara kesatuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap wacana politik dalam teks Undang-Undang Nomor 21 tentang Otonomi Khusus Papua sarat dengan nuansa linguistik (morfologi) yang bukan hanya apa yang dipahami, namun pemahaman itu sendiri pada hakikatnya juga linguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada metode kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif yang berperan menyajikan gambaran terperinci tentang suatu situasi khusus, latar sosial, hubungan, kelas atau karakteristik tertentu dalam Undang-Undang Otonomi Khusus Papua. Data utama dalam penelitian ini adalah data tulis (utama) yang bersumber teks Undang-Undang Otonomi Khusus Papua. Data kualitatif yang diperoleh dari teks undang-undang berupa data yang berbentuk kata, frasa, klausa, dan kalimat yang memberi gambaran tentang integrasi studi morfologi selanjutnya dapat dideskripsikan dan didalami maknanya sesuai dengan penggunaannya dalam teks. Hasil penelitian ini mengungkap wacana politik dalam teks undang-undang yang terdiri atas: aspek filosofis, aspek reduplikasi fonologis, reduplikasi morfologis, reduplikasi sintaksis, dan reduplikasi semantik.


Kebijakan dan Perlindungan Terhadap Bahasa Daerah

Kajian ini dieksplorasi dengan perspektif analisis deskriptif yang mengacu pada fenomena kebijakan yang dilegitimasi melalui produk hukum. Objek dalam tulisan ini terdiri atas dua, yakni (1) kebijakan Otonomi Daerah, dan (2) kebijakan Otonomi Khusus beserta kebijakan turunannya. Analisis kebijakan dalam perlindungan, pembinaan, dan pengembangan bahasa dipotret tiga perspektif, yaitu (1) perspektif empirik, (2) perspektif evaluatif, dan (3) perspektif normatif. Kebijakan dan perlindungan bahasa dianalisis dengan bukan saja menghasilkan informasi tetapi juga mengungkap argumen yang berorientasi pada kebijakan. Argumentasi yang terungkap dari kebijakan bahasa menjadi ciri utama mengapa setiap etnik penutur bahasa daerah mempertanyakan kewenangan-kewenangan yang telah dibuat melalui produk hukum. Keberadaan bahasa daerah diharapkan menjadi dasar pembentukan identitas suku bangsa, peneguhan cermin jati diri kedaerahan, dan media pengungkap corak sastra dan budaya Nusantara. Kajian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi kebijakan dan kewenangan yang dijadikan dasar perlindungan bahasa serta menawarkan solusi dalam rangka mensinergiskan output/produk/hasil implementasi kebijakan pemerintah (pusat dan daerah) dalam bentuk produk hukum perundang-undang agar dapat selaras dengan arah pembangunan nasional serta untuk memeriksa semata-mata rumusan norma hukum perundang-undangan.

Tipologi Wacana Mop ‘Humor’ dalam Masyarakat Papua: Identifikasi dan Eksplorasi

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan wacana humor yang oleh masyarakat Papua disebut Mop. Wacana Mop 'humor' merupakan salah satu kekayaan sastra bersama masyarakat Papua yang diwariskan dari generasi ke generasi. Wacana Mop 'humor' mengandung unsur humor atau kecerdasan; penciptaan makhluk berbudaya. Wacana mop 'humor' memiliki potensi kompleks linguistik dan didukung oleh kekuatan persuasif tertentu yang mempunyai efek lucu, bisa menghibur, menyenangkan, mengurangi ketegangan dan rasa tidak bahagia pada penonton/pendengar. Artikel ini merupakan upaya untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi wacana bentuk tipologi awal mop dalam masyarakat Papua dengan memproyeksikan tipologi yang mencakup: (i) cerita, (ii) percakapan atau dialog, (iii) teka-teki, dan (iv) puisi.